BELAJAR DARi KONTU UNTUK NIPA-NIPA; Refleksi Perebutan Lahan di Muna

sengketa-lahan-ilust-300x219
Ilustrasi

Madhy Kheken 31 Januari 2009. Mengapa Kontu?, karena Kontu telah menjadi potret gagalnya penanganan perlindungan hutan yang mengkambing hitamkan masyarakat, penegakan hukum dan pengakuan hak-hak masyarakat sebagai bagian dari alam. Pada kasus Kontu, kita dapat mengambil pelajaran yang berharga, karena telah menjadi bahan pembicaraan nasional ketika itu. Media telah menjadikannya sebagai isu nasional dalam upaya penanganan perbedaan kepentingan antara pemerintah yang akan melakukan perlindungan hutan dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya disekitar kawasan hutan lindung.

Kini kasus Kontu telah berlalu, walaupun berakhir dengan hasil yang sangat memilukan bagi warga, penderitaan, korban harta benda dan menyisakan kekecewaan, tanpa ada relokasi bagi warga masyarakat yang telah lama hidup disekitar kawasan hutan lindung. Bahkan ganti rugi atas harta benda warga yang merupakan hasil jerih payah mereka tidak ada. Disisi lain, banyak yang memberi apresiasi kepada pemerintah yang telah berhasil melakukan upaya pelestarian kawasan hutan lindung.

Hari ini kembali bergema kasus serupa yakni Nipanipa. Nipanipa akan menjadi potret baru, memperlihatkan kepada kita semua terhadap model penanggulangan persoalan, apakah masyarakat dan pemerintah dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik atau tidak. Kebiasaan model penyelesaian sepihak, menganggap pihak lain tidak berarti apa-apa dan tidak perlu didengar yang harus ditepis. Kontu dan Nipanipa sebagai kasus yang hampir sama atau bahkan mungkin setara pada level akar persoalan yang terjadi pada kedua daerah ini, yakni upaya pelestarian kawasan hutan lindung yang telah dirambah oleh masyarakat.

Sebuah Ironi, jika dalih perlindungan kawasan hutan harus menelan korban manusia yang seharusnya hidup harmonis dengan alam. Dalam beberapa pandangan menilai bahwa kawasan lindung khususnya kawasan hutan lindung harus benar-benar clean dari aktivitas manusia didalamnya. Upaya perlindungan suatu kawasan konservasi harus tetap melibatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem. Jika kita memahami dengan benar apa yang menjadi prinsip dasar dari ekosistem yaitu hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan mahluk tak hidup, dan hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan mahluk hidup lainnya, baik secara langsung mapun tidak langsung dengan parameter semakin heterogen sebuah ekosistem, maka semakin mapan ekosistem tersebut. Dalam paradigma sistem hal ini dibahas tuntas bagaimana proses interaksi antara berbagai elemen ekologi.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama gagalnya pelestarian lingkungan hidup secara nasional. Pertama adalah tidak adanya program pemerintah yang mampu mengontrol dan mengevaluasi kawasan hutan lindung dalam menyusun rencana tindak lanjut terhadap apa yang telah ada, guna memperbaharui program perlindungan kawasan hutan secara terus menerus (sustainable). Kedua adalah tidak adanya advokasi kepentingan masyarakat yang ada di kawasan hutan lindung. Hal ini penting, karena masyarakat pada umumnya tidak pernah dilibatkan dalam upaya pelestarian suatu kawasan konservasi. Ketiga, oleh karena masyarakat tidak terlibat dalam upaya perlindungan kawasan konservasi, mengakibatkan dukungan masyarakat terhadap pelestarian lingkungan (kawasan lindung) hampir, bahkan tidak ada sama sekali. Kenyataan ini telah menjadi kendala bagi semua elemen dalam upaya pelestarian kawasan lindung (kawasan konservasi) terkhusus pemerintah.

Begitu kompleksnya persoalan pelestarian lingkungan saat ini, utamanya pada kawasan lindung seperti pada kedua daerah tersebut terlebih jika ditarik dan dibawa-bawa pada persoalan lain. Oleh karena terlalu banyaknya kepentingan yang ikut nimbrung guna meloloskan kepentingan segelintir orang saja. Jika kita lihat dengan pandangan yang murni terhadap penyelesaian persoalan perlindungan hutan, maka langkah yang akan diambil tidak akan merugikan siapapun.

Berangkat dari hal itu, maka perlu kiranya kita menyikapi kasus Nipanipa dengan pikiran yang jernih. Kini Kasus Nipanipa sedang menggeliat walaupun tidak separah Kasus Kontu. Pada beberapa sisi, kasus Nipanipa memang tidak sama dengan kasus Kontu tetapi ada beberapa persamaan yang bisa kita jadikan sebagai sebuah rujukan.

Pertama, ancaman warga Nipanipa untuk melakukan perlawanan terhadap keinginan pemerintah dalam melakukan pengosongan lahan, di Kontu hal ini juga terjadi. Warga Kontu berkeras untuk tidak meninggalkan lokasi dengan berbagai pertimbangan, walaupun toh hasilnya wargapun tetap harus angkat kaki.

Kedua, warga tidak mendapat ganti rugi atas harta benda yang mereka miliki. Ini menjadi sebuah alasan penting bagi warga, karena toh walaupun dipindahkan kemanapun asalkan mendapat ganti rugi yang setimpal, warga mau meninggalkan lokasi.

Ketiga, tidak ada proses dialog antara pemerintah dengan warga guna mencari solusi penyelesaian kasus tersebut. Ini menjadi faktor kunci, karena apabila dilakukan proses dialog maka kedua hal tersebut tidak dapat terjadi, minimal resiko yang muncul bisa lebih kecil. Selain itu juga pemerintah dapat melakukan sosialisasi terhadap manfaat maupun landasan dasar bagi pemerintah dalam melakukan pengosongan lahan.

Ketiga alasan inilah yang kemudian harus dijadikan sebagai bahan pijakan oleh pemerintah maupun warga masyarakat agar segera mungkin membuka kran dialog agar masalah ini tidak berlarut-larut. Artinya, proses pengosongan lahan sebagai upaya pelestarian kawasan hutan lindung Tahura Murhum (Tahura Nipanipa) tetap terlaksana, sementara warga masyarakat penghuni kawasan tersebut tetap bisa melangsungkan hidupnya. Akan tetapi, apabila salah satu kepentingan mendominasi kepentingan yang lain maka kehawatiran terhadap ancaman perlawanan warga benar-benar akan terjadi. Bukan tidak mungkin, dengan berbagai tekanan yang terjadi saat ini, dapat menjadi pemicu munculnya konflik vertikal antara warga dan pemerintah daerah terlebih belum adanya komunikasi antara warga dengan pemerintah.

Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya kasus Nipanipa disikapi melalui jalan dialog. Masing-masing pihak seharusnya dapat mempertimbangkan untung-rugi dari sikap mengeras dan tak mau bicara. Tentunya kita semua berharap agar kasus Nipanipa tidak seperti Kontu yang berakhir tragis. Mari urai benang kusut perbedaan dengan kebesaran hati masing-masing. Jika anda bukan bagian dari penyelesaian, maka anda merupakan bagian dari masalah. [SRM]

***

Celoteh Panggung Pilkada

Layaknya sebuah adegan dalam sebuah cerita, tidak lengkap jika penjiwaan dan peran dari setiap pelaku untuk menunjukkan kebolehannya. Setiap laku akan mendapat penghargaan. Peranpun bermunculan, dari yang antagonis sampai yang melankolis.

156503_dua-orang-fotografer-jadi-korban-kerasnya-laga-persija-melawan-persib_641_452
Ilustrasi

Madhy Kheken

31 Januari 2009

Pentas Demokrasi (Pesta Demokrasi) selalu menampilkan lakon dan sandiwara yang akan meninabobokan setiap pemirsanya. Jauh sebelum hajatan itu dimulai, kita telah dipertontonkan atraksi dan berbagai tarian yang mengundang galak tawa, riuh rendah para penonton. Berbagai bentuk apresiasi diberikan atas lakon dan tingkah yang dipertontonkan.

Layaknya sebuah adegan dalam sebuah cerita, tidak lengkap jika penjiwaan dan peran dari setiap pelaku untuk menunjukkan kebolehannya. Setiap laku akan mendapat penghargaan. Peranpun bermunculan, dari yang antagonis sampai yang melankolis.

Tarian dan liukan dari penari amat memukau penonton. Banyak penari menjadi lupa diri. Menari dengan tarian indah, melompat, berjingrak, meliukan badan. Para penari saling beradu dan unjuk kebolehan. Setiap penari berharap dapat mengalahkan penari lainnya dengan berharap tuk dapat melompat lebih tinggi dari penari lainnya. Suatu gerak yang amat memukau telah menyulap beberapa penari menjadi badut. Badut yang mengundang galak tawa penonton. Membuat penonton tenggelam dalam tawa dan tangis. Setiap penonton larut dalam individualisme-nya. Tak hirau lagi dengan sesamanya. Penonton menjadi kesurupan, lupa akan dirinya, lupa akan kiri kanannya, lupa akan penari yang telah menjadi badut. Lupa akan segala

Pengamatpun berkomentar. Menyahut. Dengan teriakan intelektualitas yang diiringi musik modernisme. Ibarat teriakan Kierkegard menyahut rekayasa sosial Marx. Tak terdengar. Lirih

Alunan musik dengan syair intelektualitas membahana, membumbung ke langit kecongkakan, di bumi penindasan. Tanah bersimbah darah para perawi, para jejaka yang mengayun langkah pembaharuan, perubahan. Genderang pemerasan sistemik berdentang mengalun kesana kemari. Menyusupi setiap sel-sel darah. Hingga menjadi penyakit kanker modernisme yang mematikan..

[SRM]

PEREMPUAN di Negeri Bencana; Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan RI

9389-selamatkan-anak-perempuan-dari-bencana
Foto by tabloidnova.com

Suatu keniscayaan yang mesti dipegang oleh mereka yang simpati terhadap ini semua, bahwa tidak ada satupun laki-laki yang dilahirkan dari rahim laki-laki melainkan selalu lahir dari rahim para perempuan. Tetapi suatu kemustahilan bahwa perempuan dapat melahirkan tanpa adanya laki-laki yang membuahi rahim para perempuan. Yang mesti terjadi adalah keseimbangan dan keserasian yang menyadari fungsi masing-masing, yang tidak mendominasi yang satu terhadap yang lain, melainkan saling menopang antara laki-laki dan perempuan.

tidak ada suatu negeri yang mampu bertahan di muka bumi bila kaum perempuannya dipojokkan oleh sisi-sisi kehidupan yang mereka bangun, terlebih pada kebudayaan yang selalu menempatkan perempuan sebagai sosok yang tak berdaya, dan tak punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri sebagaimana kaum laki-laki

***

udhany.web.id Madhy Kheken 31 Januari 2009. – Saat ini perempuan telah menjadi icon tersendiri dalam menjelaskan bagaimana melihat dan memahami pembangunan di Indonesia. Setelah 64 tahun Merdeka, peran perempuan mestinya menyublim dalam dasar pembangunan bersama dengan aktor-aktor lain. Perempuan mestinya menjadi mitra yang sejatinya senantiasa ikut mewarnai setiap garis sejarah Indonesia. Perempuan seharusnya menjadi apa yang ia (perempuan) inginkan dalam mewarnai garis legenda negeri ini. Dalam paruh usia yang jelah menginjak 64 tahun kemerdekaan, yang merupakan usia yang terbilang dewasa dengan sejarah dan lika-liku yang panjang mestinya cukup untuk jadi sandaran bagi kita semua dalam melihat dan memahami perempuan. Disadari bahwa dewasa ini pemerintah senantiasa melakukan pembaharuan dan pembangunan di segala bidang kehidupan. Di usia yang terbilang mapan ini pula mestinya tampil tokoh-tokoh dari kalangan mereka sendiri yang mampu menjadikan perempuan sebagai legenda bagi perjuangan kaum perempuan yang telah lama tertindas, dari zaman pra-kemerdekaan hingga zaman hari ini.

Sebuah keniscayaan realitas, beberapa tahun terakhir telah banyak mengalami bencana, baik itu bencana kemanusiaan maupun bencana alam yang telah banyak menelan korban jiwa dan harta bangsa Indonesia. Dalam budaya Timur yang kental, kita selalu dan senantiasa mengasosiasikan “bencana” dengan “ujian” yang mesti dihadapi oleh kita semua yang ingin maju dan terus berkembang hingga mencapai apa yang kita cita-citakan bersama. Namun, menjadi sebuah dilema bagi kita untuk mengurai kejadian demi kejadian yang menimpa negeri ini kedalam beberapa uraian. Kita boleh saja meletakkan kejadian-kejadian ini dalam kerangka sains dan teknologi, atau mungkin dalam kerangka spiritual bahkan mistis keagamaan kita namun perlu disadari pula bahwa pendekatan-pendekatan itu memiliki muara yang berbeda dalam arti sempit maupun umum.

Dalam kerangka sains, banyak uraian para pakar begitu pula teknologi yang telah dikembangkan untuk mendeteksi seluruh kejadian-kejadian, misalnya teknologi deteksi dini gempa dan lain-lainnya, tetapi dengan hasil yang tetap sama, kita gagal mengantisipasi dan mitigasi bencana alias Nihil. Para spiritualis maupun mistis keagamaan pun tak jauh berbeda. Tokoh-tokoh spritual telah banyak pula yang angkat bicara, melihat dan merasakan ketidakpuasan terhadap hasil temuan sains dan teknologi, yang muaranya tentu mengarahkan kita pada bagaimana bisa lebih mendekatkan diri kita pada Yang Kudus, Yang Kuasa. Hasilnya, ya sebagaimana kita lihat dan rasakan. Untuk itu semua, kita patut bertanya apa yang salah dengan negeri dan warga bangsa ini?

Continue reading “PEREMPUAN di Negeri Bencana; Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan RI”

Bersabar Bersyukur dan Bersyukur Bersabar

becak
Ilustrasi

Ada seorang pemuda, anggaplah namanya Sakib yang telah bekerja tarulah pada salah satu perusahaan sebagai office boy dengan penghasilan tetap per bulannya sebesar Rp. 700.000. Kemudian tersebutlah pemuda yang lain, Amam yang juga bekerja pada salah satu perusahaan sebagai Manager dengan penghasilan tetap per bulannya sebesar Rp. 7.000.000.

Sakib adalah sosok pemuda yang hari-harinya dijalani dengan penuh khidmat, selalu merasa cukup walau hanya dengan gaji sebesar itu. Pakaian dan penampilannya sederhana, makanan yang dimakannya pun dibelinya di pasar-pasar tradisional yang dijual dengan cara digelar dipinggir-pinggir jalan. Tak segan-segan Sakib memasak sendiri demi memenuhi kebutuhan makanannya. Rumah tempat tinggalnya pun tergolong sederhana alias secukupnya. Hampir tidak ada ruangan yang tidak dimanfaatkannya. Seisi rumahnya seakan penuh sesak dengan aktivitas. Bagaimana tidak, rumah yang tergolong kecil itu hanya terdiri atas empat bagian, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Dilingkungan keluarganya, Sakib tergolong anak yang mandiri, karena telah memiliki penghasilan tetap dan rumah sendiri. Sakib juga tidak lupa mengirimi orang tuanya sekedar membantu perekonomian orang tuanya. Bahkan dengan penghasilan sebesar itu, Sakib masih menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk ditabungnya sendiri.

Dibalik itu semua, ternyata Sakib adalah pemuda yang senantiasa bersyukur, dia selalu merasa cukup dengan apa yang dia peroleh. Sakib adalah pemuda yang rendah hati dan selalu tulus dalam membantu dan mengerjakan pekerjaannya. Tak pernah mengeluh. Bahkan teman-teman kantornya berbondong-bondong membeli handphone, mengganti handphone dengan model terbaru, berkamera, MP3, bisa internet dan lainnya, Sakib sama sekali tak mau ikut-ikutan dengan hal-hal yang seperti itu. Bahkan di rumahnya tak ada lemari pakaian. Baginya buat apa membeli lemari, toh untuk menyimpan apa, pikirnya. Pakaianya toh hanya beberapa potong. Pakaian santai di rumah, pakaian shalat, pakaian kerja dan semuanya tak perlu lemari. Hanya perlu keranjang pakaian. Dapurnya pun hanya terdiri dari tiga belanga dan satu kompor. Baginya itu sudah lebih dari cukup.

Soal jodoh baginya merupakan suatu anugrah, jodoh adalah hadiah terindah dari tuhannya selain kehidupan. Bahkan disaat teman, sahabat dan keluarganya yang lain sibuk berpacaran, berta’aruf dan cara lainnya, Sakib justru menyibukkan diri dengan membantu orang lain, orang-orang yang tidak mampu, membantu tetangga yang kesusahan, berbagi dengan mereka dengan apa yang dimilikinya. Baginya hidup terlalu indah untuk disiasiakan, terlalu cepat untuk dipuja menghambur-hamburkan nafasnya pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Terselip pula dihatinya, gadis yang membuatnya selalu merasa bangga telah memiliki kehidupan. Membuatnya tersenyum disaat duka menghapirinya. Membuatnya selalu semangat disaat kegembiraannya direnggut. Tapi baginya itulah hidup yang dijalaninya dengan penuh semangat dan suka cita. Hatinya selalu bahagia.

 

Sedang Amam tergolong pria mapan di zaman seperti ini. Dengan gaji yang tergolong besar, dia mampu membeli mobil dan motor. Bahkan ke kantorpun Amam kadang menggunakan fasilitas kantor, mobil dinas dengan sopir pribadi. Dengan jabatannya sebagai manager, Amam bahkan mendapatkan banyak fasilitas dari kantornya, bukan hanya mobil dinas, bahkan dia juga mendapatkan pelayanan jaminan kesehatan, tempat tinggal yang mewah dan serba lux serta pelayanan lainnya.

Hari-harinya selain dihabiskan untuk keperluan kantor, dia juga menghabiskannya dengan rekreasi dan banyak berkeliling, tur kemana-mana sesuai kemauannya. Bahkan rumah yang dibelinya dengan harga selangit itu hampir-hampir tidak digunakannya karena seringnya dia keluar kota. Jarak antar daerah dan antar negara baginya menjadi lebih singkat. Setiap akhir pekan digunakannya untuk santai dan menghabiskan uang yang tak tau tujuannya untuk apa. Setiap akhir pekan.

Bahkan kehidupannya dilalui hanya untuk memikirkan peningkatan pendapatan dan meningkatkan jabatannya. Amam tak pernah merasa cukup dengan keadaan seperti itu. Terus berusaha mencapai semua mimpi dan keinginannya. Semua keinginannya memang didapatnya, namun setelah itu dia kembali dihinggapi rasa tak puas. Apa yang didapatnya belum seberapa, bahkan ketika dahulu dia masih sebagai pegawai rendahan di kantornya yang sekarang. Saat ini dia bahkan telah mencapai jabatan tertinggi di kantor itu, namun Amam sama sekali tidak merasa puas dengan itu. Hingga dia menjadi orang yang sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri. Hingga suatu ketika dia divonis dokter mengidap suatu penyakit, jika tak melakukan kontrol kesehatan, bisa-bisa kena stroke.

Dibalik itu semua, Amam, hampir tiap bulan check-up kesehatannya. Pemeriksaan rutin terhadap kesehatannya menggunakan fasilitas kantor melalui jaminan kesehatan namun harus pula menggunakan dana pribadi. Karena layanan jaminan kesehatan hanya berlaku setahun sekali. Maka selama sebelas bulan check up kesehatannya di danainya secara pribadi. Dan banyak hal lainpun yang harus dironggoh kantungnya demi menyelamatkan kehidupannya.

Pribadi Sakib dan Amam adalah sosok manusia yang mewakili kondisi manusia zaman kini. Mereka seakan menjadi ikon kehidupan modern seperti sekarang. Sakib mewakili kelompok manusia yang seakan tersisih dari kehidupan dunia. Sedang Amam adalah manusia yang tergolong beruntung dengan berbagai keadaannya.

Mungkin dengan contoh pribadi tadi belum mewakili gambaran syukur dan sabar. Akan tetapi dengan itu, harapan tuk sekedar mengetahui bagaimana perbedaan kehidupan mereka yang senantiasa bersyukur dan bersabar dengan mereka yang tidak bersyukur dan bersabar dapat sedikit tergambarkan. Pribadi Sakib dan Amam sedikitnya bisa menjelaskan itu.

Bersyukur, bagi Sakib adalah saat dimana hatinya yang merasa cukup. Dengan perasaan cukup itulah yang membuatnya rendah hati. Dengan kerendahan hati yang dimilikinya, maka Sakib mengikhlaskan segalanya. Keadaan ini berbeda dengan Amam. Sehingga perasaan ikhlas dan rendah hati inilah, Sakib mengantarkan dirinya dalam genapnya rasa syukur. Apa yang paling nampak dari dua keadaan diatas, yaitu pendapatan yang jumlahnya amat jauh berbeda antara 700 ribu dengan 7 juta menjadi sama dalam nilainya. Ketika Sakib menerima pendapatannya yang 700 ribu dengan penuh keikhlasan, dengan itu dia merasa rendah hati. Keadaan inilah yang membuat dia senantiasa bersyukur. Dalam kesyukuran itu pulalah tumbuh rasa sabar. Sabar yang tidak identik dengan diam. Akan tetapi sabar yang penuh dengan kesyukuran.

Untuk mengetahui apakah kita telah bersyukur atau belum dapat kita lakukan dengan mengukur perasaan kita sendiri, perasaan kita masing-masing. Mengetahui perasaan kita sendiri maka berarti sama halnya kita sedang mencoba menggambarkan apa yang kita rasakan. Perasaan bersyukur itu adalah perasaan diri yang merasa cukup, merasa rendah hati dan tulus.

Sesungguhnya dalam kesabaran itu ada kesyukuran, karena dalam kesyukuran menyimpan rasa sabar. Sehingga orang yang bersyukur mestilah bersabar dan orang yang bersabar mestilah bersyukur.

Jalan pernikahan memberikan arah kedamaian jiwa, ketenangan bathin serta menetramkan raga karena rasa syukur dalam kesabaran dan kesabaran dalam kesyukuran. Dalam hal ini, ketentraman ekonomi. Maka siapa saja yang melalui dua jalan ini (Sabar dan Syukur), telah dicukupkannya nikmat untuknya dengan penghematan ekonomi yang teramat besar sehingga ia mendapatkan ketenangan jiwa.

Dengannya, membawa kita pada kesyukuran karena telah bersabar.

Wallahualam bisawab [SRM].

***