Asa dan Cinta

cropped-cropped-alim0342.jpg
Foto by Anonim

udhany.web.id  Ditemani gemuruh dan gemerlap kembang api, malam ini seolah mengisyaratkan banyak hal. Makhluk yang hidup dikolong langit ini selalu saja terjatuh dalam ketiak waktu. Makhluk bernama manusia ini seolah hanya hidup di dua ketiak waktu, masa lalu dan masa depan. Maka tak heran setiap pergantian selalu saja bernilai sejarah. Ada yang digantikan, ada yang menggantikan. Apa yang mengganti kelak akan terganti. Begitulah seterusnya.

Memang tidak selalu pergantian itu menjadi suatu keharusan. Namun pergantian semacam itu bisa bermakna tumbuh. Seperti pergantian cangkang kepiting atau udang. Jika tidak berganti, maka hewan itu terindikasi kekurangan nutrisi atau mungkin penyakitan atau bahkan lingkungan hidupnya tak kondusif mengantarnya untuk tumbuh terlebih bisa mati terkurung dalam cangkang yang tidak sesuai lagi untuk tubuhnya. Pergantian semacam ini menjadi keharusan sekaligus pilihan.

Berbeda halnya dengan pergantian tahun 2015 menuju 2016 ini. Di penghujung tahun 2016 kita juga akan merasakan hal yang sama. Tidak ada satu diantara kita bisa memilih untuk tidak berganti tahun. Wajarlah setiap menghadapi pergantian tahun selalu ingin dimeriahkan. Orang orang ingin sedikit melupakan kepahitan hidup. Sekedar menghilangkan kecemasan sembari memupuk harapan, meledakkan keraguan hari depan yang liar.

Semua juga tahu, apa yang diganti tidak selalu buruk dan yang mengganti tidak selalu baik. Dari itulah setiap pergantian selalu saja ada harap-harap sekaligus cemas. Untuk pergantian tahun, anda, saya dan lainnya tidak ada pilihan lain, tahun akan terus berganti atau tetap disini. Mau tak mau, lepaskan penghambat untuk tumbuh melesat, tinggalkan, agar tertimbun dalam lipatan-lipatan waktu sebagai sejarah seperti cangkang kepiting atau udang itu. Ambil apa yang dibutuhkan di tahun 2015 bawa menuju 2016.

Salah satu yang baik itu adalah sikap rendah hati, tulus dan tenang. Modalitas itulah yang menumbuhkan jiwa, kebaikan, harapan-harapan. Mulailah semuanya dengan tenang, janganlah meledak-ledak, karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga, bukan halilintar, kata Mevlana al-Jalaludin Rumi sebagaimana dikutip Mahfud MD. Sudahkah anda siap rendah hati?

Happy New Year 2016

[SRM]

Share this post

Hidup adalah Karya

Lagu lagunya bahkan dinyanyikan kembali manusia generasi lama dan baru di republik ini. Dia bahkan dimandat oleh Ir. Soekarno sebagai Penyanyi Istana. Dengan itu membuatnya amat dekat dengan kuasa. Bakatnya itupun mampu mengantarnya bernyanyi dihadapan pemimpin yang disegani ketika itu, Soeharto. Tapi bukan itu yang membuatnya bertahan hingga kini. Dia tetap bertahan dengan karya-karyanya. Dengan itu dia tidak hanya mengukir namanya diantara bintang-bintang melainkan mengukirnya menjadi ABADI, MELEGENDA.

1374932_1006620956068988_4743457112266503322_n
Sumber foto : Twit @MataNajwa

udhany.web.id  Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Bagi saya, hidup adalah pelaksanaan kata-kata. Bagi seniman, barangkali hidup adalah menembus batas angan seperti kata Ebiet G. Ade. Menembus batas imajinasi bahkan logika. Bahkan dengannya, gerakan dapat berubah menjadi tarian. Wajah berubah menjadi lukisan. Suara berubah menjadi nada.

Bagi dia segalanya adalah nyanyian. Lihat saja, mungkin terhitung jari penyanyi dengan talenta sekaligus pencipta lagu yang mampu bertahan di tiga generasi. Dengan karakter, talenta musik khas yang dimilikinya, mampu mengantarnya melewati berbagai kepahitan hidup. Asam garam di dunia musik tak bisa diragukan lagi telah dikunyah habis olehnya.

Tapi di usianya yang terbilang tidak tua itu justru dia malah lebih paham makna nasionalisme. Saya bahkan memikirkan, buku apa yang telah dibacanya. Kelompok kajian mana yang telah mengasah intelektualitas dan nuraninya? Apakah dia pernah khatam karya-karya Tan Malaka semisal Naar De Republik Indonesia atau Madilog yang mashur itu. Atau mungkin Dari Penjara Ke Penjara. Atau mungkin karya J.S. Mill semisal On Liberty?

Kehadirannya di Mata Najwa malam ini rasanya telah menjewer telingaku. Betapa tidak, dia telah menghasilkan banyak karya. Hari-harinya diisi dengan menghibur banyak jiwa. Lagu lagunya bahkan dinyanyikan kembali manusia generasi lama dan baru di republik ini. Dia bahkan dimandat oleh Ir. Soekarno sebagai Penyanyi Istana. Dengan itu membuatnya amat dekat dengan kuasa. Bakatnya itupun mampu mengantarnya bernyanyi dihadapan pemimpin yang disegani ketika itu, Soeharto. Tapi bukan itu yang membuatnya bertahan hingga kini. Dia tetap bertahan dengan karya-karyanya. Dengan itu dia tidak hanya mengukir namanya diantara bintang-bintang melainkan mengukirnya menjadi ABADI, MELEGENDA.

Berbagai kritik, tuduhan bahkan fitnah tak dihiraukannya. Dia semata mata berfokus pada KARYA. KARYA dan KARYA. Barangkali ini adalah bahasa universal untuk mengabadi. Membisik pelan bahwa untuk abadi maka berkaryalah seperti juga semboyan pemerintah saat ini, KERJA KERJA KERJA. Ah saya menjadi makin paham bahwa mau berkarya ya bekerja, mau bekerja ya berkarya. Walaupun bagi sebagian saudara kita sibuk cari kerja, sibuk melamar kerja. Atau bahkan sibuk mengurus kerja orang lain, sementara mereka hampir hampir tak punya KARYA.

Jujur kehadiranmu pada usia 70an dengan pesona biduanita yang tak lekang zaman itu, semestinya kau isi dengan duduk tenang di rumahmu, menggendong cucu atau mungkin menikmati sisa hidup dari Tuhan. Tapi malah kau berpikir untuk generasi. Mengingatkan kami akan pesan-pesan leluhur tentang CINTA KASIH yang akhir akhir ini hanya tinggal slogan semata. Karya karyamu ABADI. Terimakasih untukmu para penyanyi dan kalian yang memilih mengabadikan diri untuk berkarya.

Terimakasih Sudarwati alias Titik Puspa

Raha, 30 Desember 2015. [SRM]

Share this post